Muhasabah bulan ini


“Muhasabah bulan ini” oleh Syathir Nabil



  Alhamdulillahi wasshalatu wassalaamu ‘ala rasulillah. Alhamdulillah, Allah sempatkan saya menulis kembali dan memberi sebuah risalah, dari Nabiyullah . Dimana, jalan kita yang sesuai akan manhaj generasi terbaik, yakni generasi Shalafunansshalih.
Taqwamu kepada Allah
  Sebuah tamparan bagi kita, tentang sebuah kata yang mudah namun susah dijalankan. Saat kita mendengar ramadhan datang, apa yang didalam benak kita? Jikalau, kita merasa bahagia, bahkan bersuka cita insya Alloh, diberikan keberkahan juga taufiq dari Allah . Sebaliknya, jikalah kita cenderung melas sampai-sampai bersedih, sebagian orang seperti ini. Karena dianggapnya ini bulan penjara. Tidak bisa foya-foya, apalagi kita berada dalam keadaan krisis seperti ini, dia akan kesal. Tetapi jika kita melihat, antara yang senang dengan sedih, mereka masih beriman. Walau, yang senang lebih berbobot imannya karena, mereka merasa. Ramadhan ini penuh Rahmat, dengannya hilang segala kemaksiatan, dia iman, merasa berkah. Sedang yang sedih, juga masih punya iman. Jelas, ia sedih. Tapi ingat, ia masih menjalankan peringatan tuhannya. Allah ta’ala
Bersihkan kemasaman
  Seperti poin Pertama tadi, ada 2 jenis penyambut ramadhan. Yakni yang bersuka cita, ada juga yang bersedih laun. Ada jenis ke 3, yang munafiqin. Istilah kasarnya, bodoamat, tidak peduli, apakah ramdhan atau bulan lainnya.  Dia tetap melalaikan perintahNya, tetap membangkang kepada Allah, tetap bermaksiat. Nabi katakana, ini orang yang tidak akan diampuni.
   Saat itu Nabi menaiki mimbar nabawi, di tangga Pertama nabi berkata “AMIIN” begitu juga di tangga kedua “AMIIN” sampailah di tangga ketiga beliau berkata, “AMIIN.” Saat selesai Jumat, sahabat bertanya kepada Nabi. “Ya Rasulullah! Mengapa engkau berkata amiin sebelum berkhutbah sebanyak 3 kali?” seraya itu Nabi   menjawab. “Tadi jibril datang kepadaku, lalu berkata kepadaku, wahai Muhammad, ada ummatmu yang durhaka pada orang tuanya, maka laknatlah (azab) didunia dan akhirat. Katakana amiin ya Muhammad! Maka aku amiin, Wahai Muhammad, ada ummatmu yang tidak peduli akan amalan dan ganjaran bulan ramadhan MAKA ALLAH TIDAK AKAN MENGAMPUNINYA sepanjang ramadhan, katakanlah amiin! Maka aku mengaminkan. Wahai Muhammad! Bagi mereka, ketika namamu disebutkan, lalu tidak berkata maka panjangkanlah urusan-urusannya. Dan ancaman untuknya. Katakan amiin! Makaku mengamiinkan. (cerita/kisah dari HR. BUKHARI dishahihkan Oleh al imam syaikhil Islam, Syaikh Al Albani, dicap haqq oleh Lajna Daimah Suudiyyah.)
Balasan bagi mereka

  Terdapat dampak dan azab. Dampak dari yang disebutkan, Allah tidak mengampuni mereka yang tidak peduli ganjaran Ramadhan, maka lebih banyak dosanya (masuk dalam fiqh kontemporer), namun bagi munafiq yang lebih berat. Ia memamerkan kemaksiatan depat mata, ia terlihat baik, namun ia terang-terangan bermaksiat-bersama-sama.  Para Ulama menjelaskan, hakikat munafiq bukan menyimpan maksiat sendiri, nyatanya ialah, ia berdusta atas ucapannya, juga bermaksiat kepada beberapa kawannya, ini persis seperti kisah, guru palsu Syaikh Abdul Qadir Jilain (maaf jika salah) gurunya meminum miras bersama kawannya, sedangkan dihadapan muridnya ia terlihat shalih dan alim, maka ini munafiq. Hukumannya, begitu berat, ia diberikan kepada neraka yang paling pedih dan paling dasar, lebih hina dari orang kafir muslihat dll. Diriwayatkan, orang munafiq ini sungguh menderita, beberapa berkata lidahnya terus dicabik-cabik hingga putus, ia digeret telanjang diatas duri-duri yang panas, diberu makanan yangluatnya duri dan dalamnya timah panas, sehingga membinasakannya. Apalagi bagi mereka sang pencuri amal bulan puasa,

Comments